27 December 2004

Put The Glass down !




Study this small story that makes a BIG change in you. Professor began his class by holding up a glass with some water in it.

He held it up for all to see & asked the students,' How much do you think this glass weighs?'
'50 gms!' .... '100 gms!' ......'125 gms' ......the students answered.

'I really don't know unless I weigh it,' said the professor, 'but, my question is: What would happen if I held it up like this for a few minutes?'
'Nothing' the students said.

'Ok, what would happen if I held it up like this for an hour?' the professor asked.
'Your arm would begin to ache' said one of the students.
'You're right, now what would happen if I held it for a day?'
'Your arm could go numb, you might have severe muscle stress & paralysis & have to go to hospital for sure!' ventured another student & all the students laughed.

'Very good. But during all this, did the weight of the glass change?' asked the professor.
'No'
'Then what caused the arm ache & the muscle stress?' The students were puzzled.

'Put the glass down!' said one of the students.
'Exactly!' said the professor.' Life's problems are something like this.
Hold it for a few minutes in your head & they seem OK. Think of them for a long time & they begin to ache. Hold it even longer & they begin to paralyze you. You will not be able to do anything.

It's important to think of the challenges (problems) in your life, but EVEN MORE IMPORTANT to 'put them down' at the end of every day before you go to sleep. That way, you are not stressed, you wake up every day fresh & strong & can handle any issue, any challenge that comes your way!'

So, as it becomes time for you to leave office today, Remember friend to 'PUT THE GLASS DOWN TODAY! '


from my friendster friend

23 December 2004

Peran Manusia

Dibanding mahluk Allah SWT yang lain, manusia sangatlah khas dan berbeda. Manusia dianugerahi akal untuk berfikir dan hati untuk memahami sesuatu. Itulah kelebihan manusia yang paling utama. Disamping itu, dalam hal penampilan fisik, manusia diciptakan dengan sebaik - baik bentuk penciptaan : kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, mata untuk melihat dan seterusnya. Tetapi, kemuliaan manusia bukanlah terletak pada aspek penciptaan yang baik itu, melainkan tergantung pada sejauh mana dia
Bisa menjalankan tugas dan peran yang digariskan Allah SWT kepadanya.

Menurut Al-Qur'an setidaknya tugas dan peran penting yang harus dimainkan oleh manusia didunia ini ada tiga.

Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Iini adalah tugas pokok, bahkan merupakan satu - satunya tugas, sehingga apapun yang diperbuat oleh manusia kapan dan dimanapun dan dalam kapasitas sebagai apapun, hendaklah semuanya dilakukan dalam kerangka ibadah kepada Allah. Ini sejalan dengan firman-Nya, "Dan Aku tidak menciptakan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku." (QS.Ad-Zariyat[51]:56)

Kedua, berperan sebagai khalifah. Landasan moral bagi peran ini adalah bahwasanya nilai - nilai dan segala ketentuan yang berasal dari Allah SWT harus ditegakkan dalam kehidupan dunia. Untuk menegakkannya, manusia diberi peran oleh Allah SWT sebagai khalifah (wakil)-Nya dimuka bumi, untuk menegakkan syariat-syariatnya. Firman Allah , "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi." (QS.Al-Baqarah[2]:30)

Untuk bisa menjalankan fungsi khalifah, manusia harus menegakkan nilai -nilai kebenaran dan keadilan serta kemaslahatan. Tanpa kebenaran, keadilan, serta kemaslahatan, tidak mungkin tatanan kehidupan umat manusia bisa diwujudkan. Ketiganya menjadi persyaratan utama bagi manusia untuk menjalankan fungsi khalifah pada dirinya (QS.Shaad[38]:26, QS.Al-Maidah[5]:8, QS.An-Nisa[4]:58)

Ketiga, tugas membangun peradaban. Karena kehidupan dan martabat manusia sangat berbeda dengan binatang, maka manusia bertugas membangun peradaban. Peradaban tersebut tentulah peradaban yang mulia, sebab itulah yang menjadi alasan Allah SWT menetapkan manusia sebagai pemakmur bumi. Firmannya, "Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya." (QS.Huud[11]:61)

Dalam hal ini, ada lima fondasi masyarakat beradab yang harus diwujudkan :
(1) nilai - nilai Islam yang datang dari Allah;
(2) akal yang merupakan modal besar untuk berfikir dan berkreasi;
(3) harta benda yang baik dan halal;
(4) kehormatan manusia dengan ahlak dan kepribadianya; serta
(5) keturunan atau nasab manusia.

Jika manusia tidak mampu membangun peradaban dengan lima fondasi tersebut, maka martabat manusia akan menjadi lebih rendah dari binatang bahkan lebih buruk lagi (QS.Al-A'raaf[7]:179), dan diakhirat kelak dia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya, sebagai akibat dari keengganan dan kelalaian kita untuk memberdayakan segala potensi dan kapasitas manusiawi yang kita miliki (QS.At-Tiin[95]:4~6). Wallahu a'lam.

09 December 2004

Segarnya Telaga Hati



Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali," jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingandan akhirnya sampai ketepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Paktua itu kembali menaburkan serbuk pahit ketelaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya ?"
"Segar," sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua.
"Tidak," sahut pemuda itu.
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."
email dari seorang kakak