19 October 2005

Hadits Hari Ini



عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْيُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ ...رواه مسلم


Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah saw suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah saw ) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah saw: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullahsaw) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

Catatan :

  1. Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan .
  2. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah saw)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
  2. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
  3. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
  4. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
  5. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.
  6. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.
  7. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
  8. Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.
Tema-tema hadits / موضوعات الحديث :

1. Iman : 2 : 285, 5 : 5, 6 : 82 dll.
2. Islam : 2 : 112, 4 : 125, 72 : 14, 40 : 66, 3 : 19, 5 : 3
3. Ihsan : 18 : 30, 28 : 77, 17 : 7, 5 : 93
4. Hari akhir : 7 : 187, 22 : 7, 31 : 34 .
5. Ilmu ghaib hanya Allah yang mengetahui : 2 : 3, 27:65, 6 : 50, 7 : 188
6. Belajar & mengajarkan Islam : 16:43, 21:7, 3:79, 9:122

18 October 2005

Bekal Menuju Pernikahan
By. Azizah (MyQuran)



Pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan. Jika ingin menjadi orang yang sabar maka masukilah dunia pernikahan.Karena di dalam mengarunginya kita harus menyiapkan segudang persediaan memaafkan dan meminta maaf.

Jika kita menempatkan pernikahan sebagai tempat berdampingnya ikhwan dan akhwat dalam mahligai perkawinan, sebenarnya sekaligus tempat berdampingnya mereka dalam tugas dakwah sebagai partner. Dalam makna lain, berdampingnya mereka dalam tugas - tugas kemasyarakatan, karena hal ini adalah bagian yang tak terpisahkan.

Menikah adalah satu noktah dari perjalanan yang panjang. Dengan menikah akan membuat kita tetap berada pada rel perjuangan dan berusaha meningkatkan kualitas juga kuantitas perjuangan itu sendiri.
Jika seorang akhwat sudah memasuki dunia ini maka waktunya bukan lagi mutlak milik dirinya sendiri. Dia sudah berubah status menjadi istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya dan sekaligus da'iyah bagi lingkungannya.

Disinilah dibutuhkan satu kejelian dalam menentukan seorang pendamping hidup yang benar - benar pilihan. Pendamping hidup yang ideal bagi kita bukan berarti dia harus unggul atau menonjol. Tetapi pasangan yang tepat, yaitu yang sesuai dengan bingkai dan kepribadian kita. Sebab telah terbukti bahwa, tidak semua orang cerdas membutuhkan orang cerdas lainnya. Tidak semua pria yang gagah memerlukan wanita cantik sebagai pendampingnya. Kita ambil saja contoh Rasulullah SAW, diantara istri - istri beliau yang paling menonjol kecerdasannya hanyalah 'Aisyah, sedangkan yang lainnya begitu bersahaja. Amirrul Mukminin Umar bin Khattab pun demikian, di dalam pemerintahan beliau lebih terkenal dengan sikapnya yang keras dan tegas. Tapi di dalam rumah beliau seperti anak kecil yang manja terhadap istri - istrinya.

Di sini bukan berarti kita tidak boleh memiliki beberapa patokan kriteria dalam memilih seorang calon suami. Akan tetapi setidaknya kita jangan sampai membuat satu patokan yang bisa membuat para ikhwan itu sendiri berpikir seribu kali untuk berta'aruf dengan kita apalagi punya hasrat untuk membina rumah tangga. Satu ketakutan terkadang muncul dalam diri ikhwan yang sebenarnya sudah "siap" untuk menikah secara fisik dan materi, tapi secara mental sebenarnya mereka masih "jauh".

Apa gunanya kriteria kita yang terkadang dengan "susah payah" mereka wujudkan kalau para ikhwan itu niatnya hanya untuk mendapatkan kita saja. Alih - alih dapat suami hafidz tapi dia menghafal Qur'an hanya sebagai pemenuhan atas syarat yang kita ajukan saja.Disini yang perlu diluruskan adalah niatan dan tujuan mulia kita yang memutuskan untuk menikah yang benar - benar hanya karena Allah SWT.

Penyamaan dan penyatuan visi, misi dan konsep tentang pembentukan suatu keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah satu hal yang sangat penting sekali sebelum kita mengambil satu keputusan akhir dengan siapa dan orang seperti apa kita akan menikah. Kesatuan fikrah dan prinsip adalah hal yang sangat mendasar dan urgent sekali demi tetap eksisnya satu ikatan rumah tangga. Karena pernikahan bukan hanya merupakan satu ikatan fisik tapi juga merupakan satu ikatan batin antara dua jiwa yang berbeda, maka dalam prosesnyapun diperlukan satu persiapan dan cara yang benar - benar matang dan sesuai dengan syariat Islam tentunya.

Menikah bukan hanya bertemunya seorang laki - laki dan perempuan saja tapi juga merupakan tempat bertemunya satu partner dakwah baru yang akan lebih menyempurnakan usaha perjuangan dakwah yang selama ini hanya mereka lakukan secara individu. Dan dengan pernikahan ini diharapkan akan lahirnya satu ikatan perjuangan dakwah yang lebih kokoh dan kuat. Disini akan timbul satu kerjasama dan satu kewajiban yang tak dapat terelakkan lagi antara keduanya dalam rangka ber-amar ma'ruf dan nahyi munkar. Intinya jangan sampai karena kita telah menikah justru ghirah juang dakwah kita surut bahkan hilang sama sekali.Saling mengingatkan antara keduanya saat lalai, membangkitkan ghirah saat yang satu sedang lemah. Menjadi sandaran dan tempat berlindung serta tempat mendapatkan kenyamanan hidup dari derasnya dan beratnya medan juang dakwah dalam kehidupan.

Menikah juga merupakan satu media tarbiyah diri yang terus akan berlangsung seumur hidup. Dari mulai pengenalan pribadi sampai pada penyesuaian diri agar ikatan perkawinan tetap terjaga ditengah derasnya gelombang kehidupan.Karena puncak masalah dalam pernikahan bukanlah dengan siapa kita akan menikah tetapi bagaimana kita bisa tetap survive didalam perkawinan tersebut, siapapun pasangan kita kelak.

Perbedaan kultur dan latar belakang budaya tak jarang dapat menjadi kerikil tajam dalam mengarunginya.Disinilah diperlukan satu tarbiyah ruhiyah yang dilakukan secara rutin dan kontinyu agar jiwa dan ruhiah kita terus mendapat transfer positif saat menghadapi pelik persoalan rumah tangga. Tarbiyah dzatiah ini akan menjadikan jiwa kita terbina, sehingga kita akan terbiasa menghadapi masalah yang timbul sesulit apapun.Satu pribadi yang telah tertarbiyah dengan baik akan menjadi sosok pribadi yang tangguh dan tegar dalam kehidupan.Dia akan dapat memahami satu pokok masalah sebagai satu ujian kehidupan dan sebagai ukuran tingkatan sejauh mana dirinya mampu mengaplikasikan ilmu yang selama ini ia dapatkan dalam setiap kajian tarbiyah Murabbi.

Pernikahan bukanlah puncak dari satu tujuan kehidupan . Justru pernikahan adalah satu titik awal perjalanan panjang yang didalamnya terdapat begitu banyak ujian dan rintangan. Untuk menjalaninya diperlukan satu kesiapan jiwa yang benar - benar telah terlatih dan terbina untuk bisa selamat sampai tujuan akhir yaitu mencapai keridho'an Nya.

Maka dari itu, menyegerakan untuk menikah bukan berarti tergesa - gesa dalam mengambil keputusan. Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewati dengan pilihan yang salah.Ketepatan pemilihan pasangan, kesiapan jiwa dan raga serta penguasaan ilmu tentangnya haruslah kita pahami dengan sungguh - sungguh. Karena suatu perkawinan adalah satu ikatan yang suci dan mulia yang tidak hanya menyangkut kehidupan kita di dunia saja tapi juga menentukan kehidupan kita di akherat. Karena pasangan kita yang baik dan sholeh di dunia, insyaAllah akan tetap menjadi pasangan kita kelak di syurga. AMIII….N

SEMOGA BISA MEMBANTU AKHI WA UKHTI YANG SEDANG MENGHADAPI SAAT - SAAT TA'ARUF PERTAMA MAUPUN YANG BARU BERFIKIR MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK MENIKAH, YAKINLAH BAHWA ALLAH TELAH MENETAPKAN YANG TERBAIK BUAT HAMBANYA YANG TERBAIK PULA.


الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeqi yang mulia (surga). (QS. 24:26)

... هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ...

...mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka... (QS. 2:187)

Mengemas Rindu



eramuslim - Biasanya, para pencinta selalu mengemas rindu mereka. Pencinta untuk apa dan siapa saja, rindu yang bagaimana saja. Kerinduan, adalah sebuah harta milik kita yang sederhana, namun artinya tak lebih sempit dari luas samudera. Kerap membawa keinginan tak sekadar beredar di khayalan. Namun kekuatan tekad untuk menjadikannya nyata. Mengemas rindu, menjaga cinta.

Kerinduanku, adalah akan hadirnya cinta. Seperti milik nabi Ibrahim, saat akan menyembelih anaknya. Seperti milik Ismail, yang mempersembahkannya hanya untuk Tuhannya. Seperti milik Yusuf, yang tak tergoyahkan oleh Zulaikha. Seperti milik mereka, dan mereka yang lain yang juga pencinta.

Kerinduanku, adalah akan kekalnya cinta. Tak seperti mereka yang menjualnya lantas mengatakan bahwa itu adalah pengorbanan. Tak seperti mereka yang menjadikannya harta namun diam-diam merusaknya. Tak seperti mereka yang menginginkannya hadir namun tak peduli lantas meninggalkannya.

Biasanya, para pencinta tak pernah lupa mengemas rindu mereka. Sebab pintu hati selalu terbuka kapan saja tanpa bisa dipegang kuncinya. Karena kita tak kuasa. Sebab bila tidak, ia akan mudah tergantikan begitu saja. Tanpa tahu alasannya.

***

Sebagai manusia, seringkali kita korbankan waktu dan tenaga sia-sia, untuk mengemas rindu yang tak ketahuan adanya, yang bukan rindu sebenarnya. Kerinduan itu disimpan baik-baik dalam hati, tak ingin ia lekas pergi. Sebab bila kerinduan itu hilang, maka cinta yang selalu diharap itu tak pula datang.

Kerinduan akan tahta, mengantarkan kita untuk menghamba pada dunia. Tak pernah puas, walau sudah melibas semua yang tertindas.

Kerinduan akan harta, menyebabkan kita buta. Tak peduli mengambil punya siapa, yang penting diri tak menderita.

Kerinduan akan cinta manusia, membawakan sengsara. Sebab yang ada hanya kecewa, kalau cinta tak dibalas cinta.

Bagaimana dengan milik kita?

Kalau setiap harinya selalu kita memuja yang fana. Tanpa menyadari bahwa Ia ada, melihat apa yang tak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi hati.

Kalau setiap saat kita tak pernah lalai mempersembahkan cinta, bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang tak bisa memberikan apa-apa. Juga tak punya kuasa.

Kalau hidup ini kita persembahkan untuk melayani mereka yang tak bisa memberi. Kalau rindu itu kita persembahkan untuk sesuatu yang hanya bisa menyakiti.

Lalu, untuk siapa kita mengemas rindu? Pernahkah kita mengemas rindu ini untuk-Nya? Apakah kita selalu menjaga cinta ini agar selalu berlabuh pada-Nya? Sedangkan hati ini selalu penuh akan sesuatu, entah apa itu.
Lantas, rindu itu untuk siapa?