19 June 2006

Kesatuan Dien

PRINSIP KESATUAN AGAMA

Prinsip kesatuan dalam Islam, ini mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, serta hubungan manusia dengan sesamanya. Prinsip kesatuan dalam Islam ini meliputi 4 hal :
  1. Ilah
  2. Dien
  3. Uswah
  4. Ummah

1. Ilah
Dengan syahadat, seorang muslim telah memproklamasikan dalam dirinya, bahwa dia telah bebas dari berbagai penghambaan kepada sesuatu. Dia hanya takut, hanya cinta, dan hanya akan mengikuti Allah Rabbil alamin. Dia membebaskan diri dari rasa takut, cinta, dan pengikutan pada sesuatu selain Allah. Hanya Allah saja ilah seorang muslim. Ketika berjual beli dia takut untuk mengurangi takaran, takut karena Allah melarang perbuatan itu dan Allah Maha Melihat perbuatannya. Ketika menghadapi seperangkat alat-alat eksperimen, dia bersemangat, karena menurut akan perintah Allah yang menyuruhnya untuk menafakuri alam. Hatinya telah pekat dengan celupan Allah (sibghah), sehingga seorang muslim yang beriman tunduk-patuh selayaknya seorang hamba, seorang budak, hanya kepada Allah. Hatinya lunak dalam nenerima kebenaran yang datang dari Allah. Ilah-ilah lain yang banyak, entah itu materi, pangkat, syahwat, telah dinihilkan, dan dia menegakkan dalam hatinya hanya satu ilah, satu sesembahan, hanya satu yang mendominasi detak dan arah condong hatinya, yakni Allah, Rabb manusia.

Hanya Allah saja sumber motivasi, tujuan, wa'la, dan kepada siapa penghambaan dia berikan. Dia bersandar dan meminta pertolongan hanya kepada Sang Maha Penolong, dan hanya Allah saja yang diharapkan muslim yang beriman, ridlaNya. Baginya, Allah saja penentu, apa yang harus dia lakukan, apa yang harus dia tinggalkan dan jauhkan. Allah saja pemutus, kepada siapa dia mesti berteman dan berkasih-sayang, serta kepada siapa dia mesti bersikap keras, mengambil jarak, dan memusuhi. Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah saja dia bersandar dalam bersikap, kepada siapa dia mesti selalu berprasangka baik, dan kepada siapa mesti selalu hati-hati dan selalu curiga. Inilah prinsip kesatuan pertama dan utama, tauhidul aqidah, yang melandasi prinsif-prinsif kesatuan lainnya.

2. Dien
Islam adalah din, agama yang hak. hanya Islam agama yang benar, karenanya bagi seorang muslim diyakini bahwa agama-agama lain pasti tidak benar, pasti salah. Inilah ego yang mesti menancap dalam diri seorang yang beriman. Seorang muslim, mereka yang berserah diri hanya kepada Allah, secara automatis hanya akan mengikuti dinnullah, al-Islam. Dia hanya meyakini kebenaran yang datang dari Allah. Apapun perkataan orang kafir, apapun celaan orang yang suka mencela, apapun sikap permusuhan dari musuh-musuh Allah, seorang muslim yang beriman hanya akan ikut pada agama Allah, hanya akan tunduk pada aturan Allah dan cara hidup yang diberikan Allah.

Islam adalah sebuah jalan dan satu-satunya jalan menuju mardhotillah, maka jalan lain tidak akan pernah sampai dan pasti tidak akan pernah mencapai mardhotillah. Islam adalah jalan lurus, agama sejak Adam, Ibrahim, sampai umat akhir zaman. Dengan demikian dalam dada seorang muslim hanya terpancang satu din, yakni dinnullah, al-Islam. Agama-agama lain telah dia nihilkan. Seorang yang berakal (ulul al'bab) mendengarkan ajaran-ajaran lain namun hanya akan mengikuti ajaran Islam, karena dia fahami hanya ajaran islam saja yang paling benar. Inilah kesatuan din, kesatuan cara mendekati Allah--cara yang diberikan oleh Allah juga.

3. Uswah
Rasulullah Muhammad, bagi seorang muslim, ditempatkan pada posisi yang amat tinggi, diantara manusia-manusia lain, pada kedudukan ke-dua setelah Allah. Dengan syahadat seorang muslim memproklamirkan dalam dirinya, bahwa rasulullah adalah utusan yang "mendekatkan" dirinya dengan Allah, yang menyampaikan berita-berita dari Tuhan manusia. Bagi seorang muslim, rasulullah adalah manusia pilihan dan telah dipersiapkan Allah, manusia sempurna, manusia yang mendapat pendidikan (tarbiyah) langsung dari Allah, manusia yang dalam pengawasan allah, yang manakala khilaf langsung mendapat teguran Allah.

Dengan demikian, tak ada uswah (teladan) yang lebih baik dalam upaya penciptaan hubungan yang baik dengan Allah selain dari rasulNya. Maka bagi seorang muslim yang telah bersyahadat dengan benar hanya akan meniru, meneladani rasulNya. Mereka yang cinta kepada rasulNya dan dahaga akan ridlaNya akan menihilkan tokoh-tokoh lain, menihilkan idola-idola lain sebagai uswah. Dia hanya mengikuti bagaimana prilaku rasulullah tatkala bersikap dengan anak, terhadap istri, terhadap orang tua, maupun kerabat. Dia mencontoh bagaimana nabi bergaul dengan para sahabat baik saat damai maupun ketika perang. Dia meneladani bagaimana rasul bersikap terhadap musuh dan kaum yang kafir, baik terhadap intrik, fitnah, maupun argumentasi mereka.

Rasulullah bagi orang yang beriman adalah wujud hidup al-Qu'ran, karena akhlak rasul adalah al-Qur'an. Karena al-Qur'an adalah perkataan Allah, maka pribadi yang didamba dan dicintai Allah hanyalah muslim dengan sosok rasulullah. Inilah kesatuan uswah, tauhidul uswah.

4. Ummah
Setelah hijrah ke Madinah, membangun masjid dan menghidupkan persaudaraan diantara kaum muslimin, maka rasulullah pun merumuskan piagam Madinah, perjanjian yang mengikat kaum muslimin dan yahudi Madinah. Point pertama yang digariskan rasulullah adalah mengenai konsep ummah, dimana kaum muslimin yang datang dari bani Quraish serta suku-suku lainnya, dan yang telah bersama-sama berjuang dalam rangka memerangi kaum yang kafir dinyatakan merupakan satu ummah. Dengan pengertian ini, maka dalam lingkup kaum muslimin, suku, ras, atau bangsa bukan lagi merupakan hal penting yang bisa membedakan antara seorang muslim yang satu dengan lainnya. Dalam darul Islam, yang ada hanya satu ummah, entah anggotanya datang dari suku Aus atau Khazraj.

Dengan demikian, eksklusivisme, sekterianisme tidaklah mendapat tempat dalam Islam. Kaum muslimin hanya satu, baik di Indonesia maupun Bosnia.

Syafii Maarif ketika menilai nasionalisme sebagai kekuatan yang menghancurkan pilar-pilar rumah-tangga kemanusiaan sebagai satu kesatuan umat mengutip Sejarawan Barat, A.J Toynbee, "Sekarang dalam sebuah dunia di mana jarak telah dimusnahkan oleh kemajuan teknologi Barat, dan dimana cara hidup Barat sedang bertarung dengan cara hidup Rusia untuk (merebut) kesetiaan seluruh umat manusia, tradisi Islam tentang persaudaraan manusia tampaknya merupakan ideal yang lebih baik lagi memenuhi keperluan sosial zaman ketimbang tradisi Barat tentang kemerdekaan yang berdaulat bagi beberapa lusin nasionalitas yang terpisah "

Toynbee, sebagaimana Hans Kohn adalah penulis besar Barat yang menentang ide nasionalisme karena dinilai telah memecah-belah persatuan umat manusia. Dengan kutipan ini, bukan maksud kita untuk mencari dukungan pakar Barat mengenai konsep ummah. Disini hanya ingin ditampilkan, bahwa nasionalisme sebagai ide yang muncul di Barat pun mendapat tantangan dari pemikir Barat itu sendiri. Sementara bagi kita prinsip kesatuan ummah telah jelas merupakan konstitusi yang telah digariskan rasulullah.

Dengan demikian bagi orang yang beriman, keyakinan pada ilah yang tunggal mestilah diikuti dengan pendekatan/pandangan hidup (din) yang tunggal pula, uswah (teladan) yang tunggal, dan kemanusiaan yang tunggal. Keempat prinsif kesatuan ini sangat jelas merupakan ciri agama kita. Clear, sehingga semestinya tidak ada penyimpangan. Hanya ada satu Tuhan, untuk satu makhluk manusia. Hanya ada satu jalan (din) dan hanya ada satu teladan (uswah). Inilah anugrah dari Rabb manusia.

Wallahu'alam bissawab


by: abu zahra --> tarbiyah@isnet.org

Karakteristik Pribadi Mulia

Pribadi Yang "Cantik"


Pribadi mulia antara lain akan berbicara yang baik saja, penuh kejujuran, tidak ada kebohongan, membuat senang pendengarnya, dan tidak menyakiti atau menimbulkan amarah.

Jika seluruh manusia di dunia ini memiliki karakter pribadi mulia, dapat dibayangkan betapa indahnya kehidupan ini: tidak ada konflik, permusuhan, kerusuhan, tindak kriminal, dan sebagainya. Sebaliknya, yang ada adalah semangat kerja sama, saling berkasih-sayang, tolong-menolong, dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Media massa pun akan penuh dengan berita-berita penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa maslahat, pembangunan, pertumbuhan ekonomi. Singkatnya berita-berita yang menyenangkan hati. Koran-koran kuning yang berpaham jurnalisme got, yakni menyebarkan berita kriminalitas dan eksploitasi seks, akan kehilangan sumber berita, juga kehilangan pelanggan, tidak laku, sehingga tutup.

Dapatkah kondisi demikian tercipta? Insya Allah, jika dakwah Islamiyah terus-menerus berlangsung dengan para juru dakwah berjiwa mujaddid (pembaru), muwahid (pemersatu), mujahid (pejuang), muadib (pendidik), dan musadid (pelurus) dengan keimanan dan keikhlasanya. Sasaran utama dakwah adalah perubahan pola pikir dan sikap, sehingga terbentuk manusia-manusia berkepribadian mulia. Itu pula yang menjadi misi Islam sejak kelahirannya, yakni membentuk budi pekerti yang mulia.

Akhlak tempatnya di dalam hati. Ia adalah "sentral komando" perilaku manusia. Akhlak adalah penentu baik-buruk perilaku seseorang. Fondasi akhlak yang membawa kebaikan amal perbuatan adalah dzikrullah, yakni selalu mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Dzikrullah adalah dasar akhlak mulia, bersama sifat pemaaf, suka mengajak kepada kebenaran, berpaling dari orang-orang bodoh, suka berlindung kepada Allah SWT dari godan syetan (QS. 7: 199-201).

Upaya dakwah hendaknya tidak lepas dari upaya pembentukan karakter pribadi mulia dengan fondasi akhlak yang mulia sebagai berikut:

Pertama, berbicara yang baik saja. "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak demikian) hendaklah diam" (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah pembicaraan dikatakan baik apabila isinya bermanfaat, mengandung kebajikan, membuat senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain. Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar atau sesuai kaidah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, QS. 4:9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau mudah dimengerti (qaulan baligha, QS. 4:63), serta mengunakan kata-kata yang santun, lemah-lembut, atau tidak kasar (qaulan karima, QS. 17:23). Pembicaraan yang baik juga harus penuh kejujuran atau kebenaran (shidqi).

Kedua, malu (haya’). Malu adalah perasaan untuk tidak ingin direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu adalah persoalan harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama adalah malu kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar aturan-Nya. Malu kepada manusia harus dalam konteks malu kepada-Nya. "Sesungguhnya sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’" (HR Bukhari).

Ketiga, rendah hati (tawadhu’), yaitu perasaan lemah dan kecil di hadapan Allah. Sifat ini akan membuat seseorang tidak berlaku sombong, tidak memandang dirinya mulia apalagi merasa paling benar. Fadhil bin Iyadh mengatakan, tawadhu’ ialah tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu datang dari seorang anak kecil.

Keempat, senyum atau bermanis muka. Senyum adalah suatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya agar murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkan, senyum dapat kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita. Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam terhadap kita? Rasulullah bersabda, "Kamu tidak bisa meratai (memberi semua) manusia dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka dan perangai yang baik dari kamu meratai mereka" (HR Abu Ya’la).

Kelima, sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati. Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam watak dan perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan. Terhadap yang tidak menyenangkan, kita diharuskan bersabar menghadapi sikap mereka. "Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka" (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali mengatakan, "Sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama". Menurut Nabi SAW ada beberapa tingkatan sabar, yaitu (1) sabar dalam menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan (3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Sabar yang pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu Abi Ad-Dunia).

Keenam, kuat atau tahan banting. Kuat artinya memiliki ketahanan mental dan fisik yang tinggi. Tidak mudah putus asa, tidak suka mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga bisa dimaknai unggul dan berkualitas. Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir (QS. 12:87).

Ketujuh, pemaaf, tidak pendendam. Memaafkan kesalahan manusia dan menahan amarah adalah ciri orang bertakwa (QS. 3: 134). "Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan dengan kemuliaan" (HR Muslim).

Kedelapan, menahan amarah. Marah dapat membawa malapetaka. Orang sedang marah dikuasai hawa nafsu dan setan. Pikirannya menjadi tidak jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. "Bukanlah orang yang gagah perkasa namanya ia yang kuat bergulat, tetapi yang disebut gagah perkasa itu ialah orang yang dapat mengendalikan nafsunya (dirinya) ketika sedang marah" (HR Bukhari Muslim).

Kesembilan, zuhud. Ketika seorang sahabat meminta nasihat tentang amal yang disukai Allah dan manusia, Nabi SAW menegaskan: "Berzuhudlah dari dunia, niscaya Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan manusia, niscaya manusia menyukaimu" (HR Ibnu Majah). Zuhud adalah sikap tidak terlalu mencintai dunia, bahkan membencinya dalam batas-batas yang wajar. Menurut Rasulullah SAW, "Zuhud di dunia tidak mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta…" (HR Tirmidzi).

Kesepuluh, Qonnaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak. "Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya)" (HR Bukhari dan Muslim).

Kesebelas, wara, yakni menjauhi hal syubhat karena takut jatuh kepada keharaman. Syubhat artinya tidak dapat dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram). Nabi SAW mengatakan, siapa yang menjauhi syubhat berarti ia membersihkan diri dan agamanya. Siapa yang mendekati syubhat, maka dikhawatirkan termasuk pada hal haram (HR Muttafaq ‘Alaih).

Keduabelas, suka menolong, yaitu membantu orang yang sedang dalam kesulitan, selama berada pada garis kebaikan dan takwa. Termasuk menolong orang lain adalah menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya malu. "Siapa yang menutupi aib orang mukmin, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya" (HR Muslim).

Demikianlah karakteristik pribadi mulia yang harus kita tanamkan dalam diri kita dan didakwahkan kepada orang lain. Semoga Allah memberikan bimbingan dan pertolongan kepada kita dan para mujahid dakwah. Wallahu a’lam.

from: pwkrt.org

16 June 2006

Pesan-pesan Al Quran


Pesan-pesan Al Quran Tentang Tujuan Hidup


Bismillahirrahmaanirahiim...

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an
tentang tujuan hidup yang sebenarnya

Nasehat ini untuk semuanya ..........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.

Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci........... ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena
kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan.....
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan..... Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun...... jika cinta engkau jadikan sbg landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan......
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan......
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu".....
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan
sorban, karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu".....
Disayang, dimanja dan dilayani suami......
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu.....
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya......
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth.....
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu....

Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagaiKhadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....
Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam....
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan..... Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka...... jangan..........

Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....

Amin....

thx to my brotha @ mail, I beg your permit for this......