29 January 2007

Syari’at Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِي


وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

Penerapan syari'at Islam menuntut upaya yang lebih dari sekedar sosialisasi tentang perlunya syari'at Islam. Dalam upaya pembentukan kesadaran masyarakat tentang syari'at Islam, terdapat beberapa kendala yang bersifat deeprooted dari hanya sekedar ketidakfahaman dar keengganan masyarakat untuk menerimanya. Paling tidak, kendala historis, sosiologis dan ideologis perlu dicatat dalarruupaya sosialisasi syari'at Islam yang lebih intens.

Dari segi legal historis misalnya, efek kolonialisme Belanda berpengaruh besar terhadap hukum positif yang berlaku di Indonesia. Kebiasaan berhukum dengan standar kolonial ini menjadikan umat Islam merasa asing dengan hukum agamanya sendiri. Karena hukum menyangkut kesadaran tentang keadilan, misalnya, konsepsi masyarakat tentang keadilan itu sendiri dipengaruhi oleh sistem hukum yang ada.

Dari segi sosio historis, kolonialisme juga telah menciptakan struktur masyarakat yang terpolarisasi baik secara agama, status sosial maupun budaya. Dalam konteks berbudaya, ethnocentrism dan xenocentrism merupakan produk kolonial yang telah membentuk mentalitas masyarakat Indonesia. Ethnocentrism dalam hal ini adalah anggapan bahwa budaya barat merupakan standar budaya masyarakat yang modern dan beradab, sementara xenocentrism menunjukkan bahwa budaya dan adat bangsa sendiri lebih inferior ketimbang budaya barat-kolonial. Termasuk dalam konteks ini adalah rasa inferior terhadap atribut dan karakter yang melekat pada agama masyarakat terjajah, dan rasa superior jika mengadopsi budaya barat yang nilai rasional, progresif dan humanis. Persoalan HAM, misalnya, harus menggunakan standar barat termasuk isu-isu tentang jender dan demokrasi.

Short post here
Extended post here

Xenocentrism dan Ethnocentrism semakin kuat karena dukungan agen penyebar budaya yang menggunakan kekuatan media massa sebagai pembentuk opini publik. Kekuataan inilah yang terus mewariskan mentalitas inferior terhadap atribut budaya dan agama sendiri dan perasaan bangga mengadopsi budaya barat.

Selain itu, dari segi politico historis, sejarah tentang DI/TII diabadikan sebagai icon pemberontakan kelompok Islam yang berpotensi mengancam integrasi bangsa. Image ini memunculkan phobia (ketakutan) dan alergi kepada hal-hal yang bersentuhan dengan kritik terhadap ideologi negara beserta perangkat-perangkat hukumnya dan altematif tawaran Islami.

Dalam konteks ideologis, fenomena tuntutan syari'at Islam dianggap sebagai artikulasi kebangkitan Islam yang sarat dengan unsur kekuasaan. Upaya itu dianggap sebagai simbol paling tinggi dari politik Islam, karenanya harus dilakukan pembendungan. Politik bahasa dengan memperkenalkan idiom-idiom fundamentalis, teroris, radikal dan militan merupakan contoh pertarungan ideologi yang memasuki ranah (area) media massa dalam melakukan distorsi terhadap upaya membumikan Islam. Perdebatan di lembaga legislatif dan perdebatan mengenai produk perundang-undangan juga merupakan representasi atas hal itu.

Upaya sosialisasi syari'at Islam memerlukan diversifikasi strategi dan metode yang bersifat jangka panjang dan pendek. Hal-hal yang berkaitan dengan persoalan mentatitas yang bersifat deeprooted tidak bisa diatasi dengan kegiatan insidental. Upaya agar masyarakat dapat melakuakn internalisasi terhadap nilai-nilai yang dikandung dalam syari'at Islam perlu dilembagakan. Di samping itu, upaya ini harus diluruskan sejak awal bahwa penerapan syari'at Islam bersifat ideologis dan bukan politis maupun hanya sebatas respon terhadap kegagalan modernisme yang dihadirkan di tengah masyarakat. Penerapan syari'at Islam merupakan upaya untuk mewujudkan islam yang rahmatan lil 'alamin.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian kita dalam merespon persoalan-persoalan yang terjadi di seputar kita antara lain:

Pertama, menegaskan adanya hubungan antara persoalan-persoalan yang disebutkan terdahulu dengan tingkat ke-Islaman kita; persoalan-persoalan tersebut terkait dengan pemahaman kita terhadap Islam, terkait dengan komitmen kita melaksanakan prinsip-prinsip Islam dan terkait dengan konsistensi kita untuk menjadikan Islam sebagai solusi masalah sosial. Allah SWT akan menguji kita dengan pelbagai masalah untuk menegaskan keimanan kita pada-Nya, untuk menjadikan kita lebih matang dengan pengalaman dan untuk mengetahui siapa yang menjadi lawan dan kawan dalam menegakkan Islam.

Kedua, diperlukan kesabaran dalam merespon persoalan di atas yang merupakan sunnatullah di mana ujian perlu diberikan kepada orang-orang Mu'min. Sabar berarti menahan diri dari mengambil jalan pintas yang tidak diridhai Allah dengan menghalalkan segala cara untuk mengatasi persoalan. Sabar menuntut keyakinan bahwa balasan baik dari Allah pasti akan datang. Sabar meminta kita untuk bersikap yakin terhadap adanya jalan keluar. Sabar harus disertai dengan permintaan pertolongan kepada Allah SWT. Sabar berarti jauh dari berkeluh kesah dan putus asa.

"Sungguh indah kehidupan seorang mu'min. Sesungguhnya semua urusan adalah baik baginya. Jika mendapatkan kebaikan, ia akan bersyukur dan kesyukurannya ini adalah baik baginya; dan jika ditimpa musibah, ia akan bersabar dan kesabarannya itu adalah baik baginya". (HR. Bukhari)

Ketiga, Kondisi yang menjadi masalah bagi Ummat Islam tidak seluruhnya merupakan kesalahan internal tetapi juga terdapat kekuatan luar yang memang tidak menginginkan ummat Islam bersatu. Allah berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan juga kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan" (QS. Ali Imran: 186)

Kalimat "Adzan katsira...” DR. Yusuf Qardhawi memberi komentar ayat tersebut dengan mengatakan: "teror lisan" pasti dilancarkan kepada kaum beriman untuk merusak dakwah mereka, mendiskreditkan dan menimbulkan keraguan di sekitar citra dan hakekat sejarah mereka. Suatu peperangan yang menggunakan senjata intrik, pemalsuan, provokasi dan fitnah. Karena itu kaum Muslimin harus mempersiapkan diri untuk menghadapi gangguan-gangguan tersebut dan bersabar menelan pahitnya gangguan itu sampai Allah memenangkan yang haq dan menghancurkan yang bathil".

Keempat, optimisme bahwa Allah pasti akan memberikan jalan keluar. Optimisme adalah modal psikologis untuk tidak terus terpuruk dalam kesedihan. Tidak jarang kita melihat bahwa krisis terus berlangsung karena kita telah diliputi rasa putus asa terlebih dulu. Kondisi ini semakin memperburuk motivasi kita untuk bekerja. Kekuatan usaha kita banyak bergantung pada semangat kita mencari ridha Allah SWT. Rahmat Allah tidak datang dengan sendirinya, tetapi dicari untuk didapat, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al Quran.

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ …

“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)

Semoga Allah SWT memberikan jalan keluar, memberikan kekuatan untuk bersabar, memelihara rasa optimisme dalam mencari rahmatNya dan memberkahi segala/langkah untuk menyelesaikan persoalan. Amiin.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS. Al Israa: 16)

Wallahua’lam bishshawwaab

edited from: Khutbah 'Idl Fitri by H. Ali Mochtar N, MA

14 January 2007

Langit dan Laut Bercinta

Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta.
Mereka sama2 saling menyukai 1 sama lain.
Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut = langit,
saking sukanya langit terhadap laut,warna langit = laut.

Setiap senja datang,
si laut dengan lembut sekali membisikkan "aku cinta padamu" ke telinga langit.
Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta laut
langit tidak menjawab apa2 hanya tersipu2 malu wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari, datang awan...
begitu melihatkecantikan si langit,
awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit.
Tentu saja langit hanya mencintai laut,
setiap hari hanya melihat laut saja.

Awan sedih tapi tak putus asa,
ia mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.
Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah2 langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap 1 sama lain.

Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit,
sehingga dengan gelombangnya,
laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya.
Tapi tentu saja tidak berhasil.

Lalu datanglah angin,
yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit
merasa harus membantu mereka
menyingkirkan awan yang mengganggu.

Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan ...
Awan terbagi2 menjadibanyak bagian,
sehingga tidak bisa lagi melihatlangit dengan jelas,
tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit.

Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit,
awan menangis sedih.
Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.
Kamu juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih.
Setiap ke laut, di mana ada 1 garis antara laut dan langit, di situlah mereka sedang bercinta.


nice pick from : Cahaya Diatas Cahaya

08 January 2007

Kenali Lawan Bicaramu

Komunikasi antara dua orang atau lebih adalah hal sehari-hari yang kita lakukan, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Komunikasi yang dibangun ini adalah untuk mempererat hubungan diantara mereka baik hanya untuk saling sapa saja ataupun untuk tujuan-tujuan tertentu. Nah, berkaitan dengan menjalin hubungan komunikasi ini adalah penting untuk mengenal karakater lawan kita dalam berkomunikasi. Ini penting karena untuk menjaga agar hubungan yang terbina tetap baik dan saling menguntungkan dalam artian tidak timpang atau lebih parah dapat menimbulkan ekses negatif.

Golongan darah ternyata menentukan cara orang berpikir, berucap dan bertindak. Hal ini terutama diyakini oleh orang-orang Jepang secara lebih ketat. Praktek pemilihan golongan darah ini dilakukan oleh mereka pada saat akan merekrut tenaga kerja untuk kebutuhan profesional. Untuk jenis posisi tertentu, jenis golongan darah yang dibutuhkan akan berbeda dengan untuk posisi lainnya. Karena menurut keyakinan orang Jepang, tidak semua golongan darah dapat bekerja sama baiknya di semua posisi. Adalah seorang Furukawa Takeji yang pertama kali meneliti dan menyatakan bahwa golongan darah seseorang akan mempengaruhi kepribadian dan karakter orang tersebut secara langsung.

Seorang motivator, Andrie Wongso dalam sebuah bukunya yang berjudul "Understanding Your Communication Styles – Memahami Gaya Komunikasi Anda", membahas mengenai berbagai karakter orang dari golongan darahnya. Dari jenis golongan ini beliau memetakan berbagai jenis karakter manusia. Saya tidak akan membahas semuanya di sini silahkan anda mencari atau membeli buku tersebut di toko-toko buku yang ada.

Karena kebetulan golongan darah saya A maka akan saya bahas bagaiman karakter manusia dari golongan darah tersebut, sehingga anda maupun saya bisa berkomunikasi dengan baik karena paling tidak tahu sedikit bagaimana kita harus berkomunikais dengan orang-orang bergolongan darah A ini :-).

Karakter Orang Bergolongan Darah A

Orang dengan golongan darah A memiliki kekuatan karakter yang mengakar kuat yang akan membantu mereka untuk tetap tenang dalam krisis ketika semua orang panik menghadapi situasi serupa. Mereka cenderung menghindari konfrontasi, dan sesungguhnya kurang nyaman berada di antara orang banyak. Mereka biasanya pemalu dan terkadang suka mengasingkan diri. Mereka mencari keharmonisan dan sangat sopan, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar cocok dengan orang lain. Mereka sangat bertanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka lebih suka mengerjakannya sendiri. Orang-orang dengan golongan darah ini selalu mengukir sukses dan sangat perfeksionis. Mereka juga sangat kreatif, dan paling artistik di antara semua golongan darah yang ada karena kesensitifan mereka.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah A

  • Jangan mengangkat topik yang konfrontatif, misalnya, topik kontroversial karena mereka orang yang tidak suka membuat konfrontasi dengan lawan bicara.
  • Gunakan kata-kata yang relatif sopan karena mereka sangat sensitif dan terkadang konservatif sehingga kata-kata yang tidak sesuai dengan standar kesopanan minimal akan dapat menyinggung mereka.
  • Jika menjawab usahakan dengan lengkap dan bermakna karena mereka adalah orang yang sangat sempurna dan kurang menyukai hal yang setengah-setengah.
  • Mintalah pandangan dan pendapat mereka karena mereka sangat kreatif untuk hal ini dan dengarkan dengan saksama ketika mereka menjelaskan.
  • Jangan melebihi mereka saat menyampaikan sesuatu. Artinya, jangan sampai mereka merasa dilampaui dalam hal kepintaran dan pengalaman, misalnya.
  • Hargai mereka dengan memuji seperlunya karena pujian yang berlebihan akan membuat mereka ragu dengan ketulusan si pemuji.

Sebagai tambahan, orang golongan darah A cenderung menyukai topik-topik yang bernuansa damai dan kooperatif. Mereka tidak menyukai topik yang berkaitan dengan sepak terjang atau kepribadian orang lain yang tidak ada parameter jelasnya. Mereka sangat sensitif, dalam arti setiap kata yang diterima oleh akal sehat mereka akan menjadi tolok ukur mereka terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Untuk itu, lebih berhati-hatilah jika berhadapan dengan orang golongan darah A ini karena mereka sesungguhnya adalah pengamat yang luar biasa.

sumber: Andrie Wongso