17 March 2006

Kekuatan Sikap


“Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia telah beruntung,
Barang siapa hari ini sama dengan kemarin maka ia merugi,
Barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia terlaknat”


Penelitian yang dilakukan Harvard University menyatakan bahwa seseorang mendapatkan pekerjaan, 85% keberhasilannya disebabkan sikap mereka dan hanya 15% dipengaruhi kepandaian dan pengetahuan mereka.

Mengapa sikap? Sikap merupakan cerminan diri kita yang sesungguhnya. Akarnya ke dalam dan buahnya ke luar. Sikap bisa menjadi sahabat ataupun musuh terbesar kita. Sikap dapat mendekatkan seseoraang pada kita atau menjauhkan mereka. Sikap kumpulan pengalaman masa allu, kenyataan hari ini dan kesusksesan masa depan.

Sikap kita menunjukkan pada dunia, apa yang kita harapkan dari kehidupan. Kemampuan adalah apa yang mampu kita lakukan. Motivasi menentukan apa yang kita lakukan. Sikap menunjukkan seberapa baik kita melakukan sesuatu. Sikap berbicara lebih banyak dari sekedar kata. Sikap menentukanhubungan orang lain pada kita. Siapa kita ditentukan oleh apa yang berulang-ulang kita perbuat. Inilah yang disebut kebiasaan.

Dalam menentukan sikap ini, setidaknya ada tiga hal yang mempengaruhi kita. Pertama, Experience (pengalaman). “Guru yang terbaik adalah pengalaman,” demikian dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib r.a. Karenanya perilaku kita akan berubah seirama dengan pengalaman dalam mengarungi dan menapaki peristiwa.

Pengalamanlah yang mempengaruhi kita untuk mendapat suplai informasi yang ada dalam otak. Kedua, Daya kemampuan menyimpan, mengingat dan menganalisa data pada diri kita atau sering disebut knowledge (pengetahuan) sangat menentukan dalam proses pengambilan keputusan (decision making). Karena memang knowledge is power because knowledge is an information.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketiga, environment (lingkungan). Perhatikan dua makna hadits rasulullah saw berikut ini;

Sesungguhnya setiap diri itu fitrah, hingga orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Barang siapa berteman dengan penjual winyak wangi maka dia akan ikut wangi dan barang siapa berteman dengan pandai besi maka ia akan terkena panasnya”.

Rangkaian hadits tersebut di atas kurang lebih bermakna bahwa lingkungan (diantaranya orang tua dan teman) sangat mempengaruhi sikap kita. Lingkungan positif akan membawa kenyamanan dan kebahagiaan. Orang yang memiliki sikap negatif cenderung sulit mempertahankan hubungan persahabatan, tali pernikahan dan pekerjaan. Tak heran bila konsekuensinya seringkali ia mengalami stress, penyesalan mendalam, kebimbangan dan makin memperburuk keadaan.

The Quality of Life Cycle

Suasana hati menentukan sikap kita, bila ia baik maka baik seluruhnya, dan bila ia buruk maka buruk pula semuanya.

Perhatikanlah lintasan hatimu, maka engkau akan memetik pikiranmu, perhatikanlah pikiranmu maka engkau akan memetik lisanmu, perhatikanlah lisanmu maka engkau akan memetik sikapmu, perhatikanlah sikapmu maka engkau akan memetik kebiasaanmu, perhatikanlah kebiasaanmu maka engkau akan memetik karakter akhlakmu dan perhatikanlah akhlakmu maka itulah dirimu.”

Rangkaian cycle (siklus) yang menunjukan sikap dan karakter sangat ditentukan sejauh mana kita bisa mengendalikan hati. Dalam hal ini kita bisa belajar dari sikap alam, mengenai hukum tanam dan tuai.

  1. Miliki niat, keinginan, kehendak untuk menanam, inilah titik awalnya. “Maka bertebaranlah dimuka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah semoga kamu beruntung” (Al Jumuah: 10).
  2. Siapa menanam dia akan menuai. “Dan orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal didalamnya” (Al Baqarah: 82)
  3. Kita harus menanam, baru menuai. Usaha dulu. Kita harus mau memberi dahulu baru akan menerima. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya” (Al Baqarah: 286)
  4. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Jika menanam padi, maka kita akan menikmati padi, bukan gandum. “Jika kamu berbuat baik maka kamu bebuat baik bagi dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri” (AL Israa: 7)
  5. Jika kenanm sebutir benih padi maka tak hanya mendapat sebutir saja tapi berlipat ganda “Perumpaan orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki” (Al Baqarah: 261)
  6. Seorang petani tahu bahwa ia tidak menabur dan menuai di hari yang sama.
  7. Ada musim semi, dan ada pula musim gugur. Persiapkan bekal. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat nya untuk hari esok. Dan bertaqwalah.” (Al Hasyr: 18)
  8. Rumput liar akan menyertai tanaman yang tumbuh. Waspadalah!!! Pangkaslah. “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan begitu saja mengatakan aku beriman sedangkan mereka belum di uji?” (Al ‘ankabut: 2)
  9. Bibit unggul berasal dari proses. Sumber yang baik akan membuahkan hasil yang baik. “Sesungguhnya Allah tidak menlihat rupa dan hartamu tapi Allah melihat hati dan amalmu” (Mutafaqa ‘alaih)
  10. Tanaman akan baik bila dirawat, diberi pupuk disirami dengan air diberi cahaya diberi suplemen agar tahan terhadap hama dan perubahan cuaca.
  11. Hati-hati, ladang tetangga lebih indah tampaknya. “Janganlah engkau iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah pada sebagian kamu lebih banyak dari sebagaian yang lain” (An Nisaa:12)

Cobalah mengawali ilmu menanam dan tuai ini dari diri anda, you are the first. Anda sebagai the example man as the pioneer. Anda yang siap menerima seriko. Anda memahami lebih dahulu. Anda yang mau mendengar. Anda yang mau memberi lebih. Anda yang mau bersyukur atas apa yang telah diperoleh. Anda yang memiliki ide dan kreatif. Anda yang memiliki harapan. Nada yang peka terhadap perubahan. Anda yang berbagi. Anda yang tak mau berhenti mencoba. Anda yang tak mau menunda pekerjaan menunggu hari esok. Anda yang bangkit dari kesalahan. Anda yang senantiasa dekat dengan Allah swt. Anda yang mampu mengatur sikap positif.


Sumber: Tarbawi, edisi 78 th. 5/Dzulhijah 1424 H/ 19 Februari 2004 M
By: Buyung Ristyono, ST. Trainer LMT TRUSTCO Jakarta

No comments: